Selasa, 19 Agustus 2025

Ekonomi Tumbuh 5,12 % Tapi Kenapa Banyak Orang Justru Terdesak?

Ekonomi Tumbuh 5,12 % Tapi Kenapa Banyak yang Justru Terdesak?


Pertumbuhan di Atas Kertas

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa ekonomi Indonesia tumbuh 5,12 % (yoy) pada Triwulan II-2025. Angka ini dipuji karena lebih tinggi dari perkiraan banyak analis. Motor utamanya tetap konsumsi rumah tangga yang tumbuh sekitar 4,97 %, dengan total pengeluaran konsumen mencapai lebih dari Rp 1.813 triliun.

Di atas kertas, ini terlihat positif. Tapi jika ditarik ke realita, banyak masyarakat justru merasa hidup makin sulit.

Grafik 1: Pertumbuhan Ekonomi 2023 - Q2 2025


Grafik 1  Pertumbuhan Ekonomi Indonesia

Seperti terlihat pada grafik 1 Pertumbuhan PDB relatif stabil di sekitar 5%. Setelah sedikit melambat di 2024, Q2-2025 menunjukkan akselerasi ke 5,12%. Jadi headline pertumbuhan kuat memang benar, tetapi itu tidak serta-merta mencerminkan kondisi semua rumah tangga.


Anomali: Statistik vs Realita

  • Konsumsi memang naik, tetapi porsi terbesar datang dari kelompok berpenghasilan tinggi.

  • Survei NielsenIQ menunjukkan bahwa 54,5 % PDB berasal dari belanja kelompok atas, sementara kelas menengah-bawah semakin berhati-hati.

  • Bahkan, 83 % konsumen mencoba mencari penghasilan tambahan dan 23 % mempertimbangkan utang hanya untuk mempertahankan gaya hidup.

Artinya, angka konsumsi yang tinggi tidak selalu mencerminkan daya beli mayoritas rakyat.


Gelombang PHK yang Membayangi

Di sisi lain, masalah ketenagakerjaan semakin menekan:

  • Kemnaker mencatat 26.455 kasus PHK hingga Mei 2025.

  • Apindo mencatat 73.992 pekerja kehilangan pekerjaan hanya pada Januari–Maret 2025.

  • Sumber lain menyebut angka PHK 60–70 ribu orang di kuartal pertama.

Data yang simpang siur ini membuat publik bertanya-tanya: sebenarnya seberapa besar masalah pengangguran saat ini?



Grafik 2: Jumlah Tenaga Kerja Ter-PHK 2023 - Awal 2025

Grafik 2  Jumlah Tenaga Kerja Ter-PHK

Grafik 2 memperlihattkan walau ekonomi tumbuh ~5%, PHK naik pada 2024 dibanding 2023. Di awal 2025 saja sudah 18,6 ribu kasus, menandakan tekanan pasar kerja masih nyata. Angka 2025 bersifat sementara (baru Jan–Feb), jadi tidak untuk dibandingkan “apple-to-apple” dengan angka tahunan.



Bertahan Lewat Utang

Masyarakat yang kehilangan pendapatan akhirnya bertahan dengan utang. Fenomena ini tampak di tiga saluran utama: bank, pegadaian, dan pinjaman online (pinjol).

  • Data terbaru menunjukkan utang macet pinjol naik 14,8 % yoy menjadi Rp 2,01 triliun.

  • Usia 19–34 tahun menyumbang macet terbesar, sedangkan usia 54 tahun ke atas mengalami lonjakan macet tertinggi (naik 104 %).

  • Di lapangan, makin banyak yang menjaminkan barang di pegadaian atau menambah cicilan bank demi menutup kebutuhan bulanan.


Konsumsi Riil yang Tidak Merata

Transaksi digital, e-retail, dan marketplace memang naik. Namun, pertumbuhan ini lebih didorong belanja kelompok menengah-atas. Kelas bawah? Banyak yang hanya bisa menunda pembelian, mengganti merek lebih murah, atau berutang.


Kesimpulan

Pertumbuhan 5,12 % memang indah sebagai headline. Tetapi angka ini tidak otomatis berarti sejahtera bagi semua rakyat.

  • Banyak yang kehilangan pekerjaan.

  • Banyak yang bertahan dengan utang.

  • Pertumbuhan konsumsi justru didominasi kelompok kaya, bukan mayoritas masyarakat.

Jika pemerintah ingin pertumbuhan benar-benar inklusif, perlu ada:

  1. Transparansi data supaya publik tidak bingung oleh perbedaan angka.

  2. Jaring pengaman sosial bagi pekerja yang terdampak PHK.

  3. Akses pembiayaan sehat untuk mengurangi jebakan utang, terutama pinjol.

Tanpa itu, pertumbuhan 5,12 % hanya akan menjadi angka cantik—tapi rakyat tetap terhimpit.

Rupiah Rp18.000, BI Naikkan Suku Bunga 100 Bps: Alarm Bahaya Ekonomi Indonesia?

  Mengapa Rupiah Mencapai Rp18.000? CDS Naik, BI Agresif, dan Ancaman Fiscal Doom Loop Indonesia Opini Penulis • Analisis Ekonomi Dis...