Kamis, 19 Juni 2025

PERANG ALGORITMA : Video Game Vs Social Media

Antara Sosial Media dan Video Game: Perang Algoritma dalam Membentuk Otak Manusia


Pendahuluan

Di zaman digital seperti sekarang, dua hal yang paling banyak menyita perhatian manusia adalah media sosial dan video game. Sekilas, keduanya hanya dianggap sebagai hiburan. Namun di balik layar, ada kekuatan besar yang bekerja: algoritma kecerdasan buatan (AI) yang dirancang untuk membuat kita terus terhubung—dan kecanduan.

Artikel ini membahas bagaimana media sosial cenderung melemahkan kemampuan belajar mendalam, sedangkan video game justru bisa menjadi solusi alternatif untuk melatih otak, khususnya pengetahuan tacit—meski keduanya sama-sama punya risiko kecanduan.


Algoritma Sosial Media: Menciptakan Kecanduan Pasif

Sosial media seperti Instagram, TikTok, dan Facebook menggunakan algoritma untuk mengatur apa yang kita lihat, berdasarkan apa yang kita sukai atau habiskan waktunya.

Hasilnya:

  • Otak terbiasa mencari kenyamanan cepat

  • Kecanduan notifikasi & validasi sosial

  • Jarang berpikir mendalam atau belajar dari pengalaman

Secara tidak sadar, ini menghambat pengembangan pengetahuan tacit—jenis pengetahuan yang hanya bisa dipahami lewat latihan, pengalaman, dan intuisi, seperti kemampuan memimpin, membuat keputusan cepat, atau membaca situasi.


Teori Shannon dan Pengetahuan Tacit

Menurut Claude Shannon, pencipta teori informasi, suatu pesan dianggap bermakna jika bisa ditransmisikan dengan jelas dan diterima secara utuh.

Namun, dalam praktiknya, tidak semua pengetahuan bisa disampaikan secara eksplisit. Ada yang harus dilatih, dirasakan, dan dipraktikkan langsung—itulah pengetahuan tacit.

Dan sosial media tidak menyediakan ruang untuk itu.


Video Game: Tantangan yang Melatih Otak

Berbeda dengan media sosial, video game membuat pengguna aktif secara mental. Dalam game, kita menyusun strategi, menyelesaikan masalah, belajar dari kesalahan, dan beradaptasi.

Video game dapat melatih:

  • Pengetahuan tacit seperti intuisi, refleks, kerja sama

  • Konsentrasi dan logika

  • Kegigihan dan adaptasi

Menurut beberapa penelitian, game seperti puzzle, strategi, atau RPG dapat meningkatkan kemampuan kognitif dan keterampilan sosial, terutama jika dimainkan dalam waktu yang wajar.


Tabel Perbandingan: Social Media vs Video Game

Kesimpulan: Pilih Racun yang Bisa Jadi Obat

Keduanya—media sosial dan video game—memiliki risiko kecanduan karena sama-sama dirancang dengan algoritma AI yang mempelajari kebiasaan kita. Namun jika kita harus memilih, lebih baik “kecanduan” game yang menantang otak, daripada tenggelam dalam scroll tanpa tujuan.


Teknologi bukan musuh—yang penting adalah bagaimana kita menggunakannya.

 

Penutup

Video game, meski sering disalahpahami, bisa menjadi alat yang sangat efektif untuk melatih otak dan mengembangkan pengetahuan tak terlihat yang justru dibutuhkan di dunia nyata.

Sementara itu, sosial media tetap berguna, tetapi harus digunakan dengan batas yang sehat. Mari arahkan teknologi ke arah yang membentuk manusia yang aktif, berpikir, dan berkembang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Berikan saran apalagi yang mau dibahas

Rupiah Rp18.000, BI Naikkan Suku Bunga 100 Bps: Alarm Bahaya Ekonomi Indonesia?

  Mengapa Rupiah Mencapai Rp18.000? CDS Naik, BI Agresif, dan Ancaman Fiscal Doom Loop Indonesia Opini Penulis • Analisis Ekonomi Dis...